Indonesia menjaga stok BBM dan LPG tetap aman di tengah gejolak geopolitik lewat "manajemen di depan" — stok jangka panjang dan diplomasi pasokan. Peta jalannya: transisi B40 ke B50, digitalisasi subsidi agar tepat sasaran, dan penyelesaian social license lewat dialog dengan masyarakat.
Resep resiliensi: manajemen di depan
Laode Sulaeman (Dirjen Migas) bersama Anggawira (Ketua Umum ASPEBINDO) menjelaskan bahwa Indonesia tetap tenang di tengah gejolak harga dunia karena bekerja untuk stok jangka panjang dan aktif berdiplomasi mengamankan pasokan — sementara sebagian negara lain mulai mengalami kelangkaan.
Menuju B50
Indonesia menjadi salah satu pionir dunia dalam penggunaan campuran biodiesel tinggi. Transisi B40 ke B50 diarahkan untuk menekan impor solar dan memaksimalkan potensi sawit dalam negeri, dengan dukungan kilang RDMP Balikpapan.
LPG: masalah logistik, bukan sekadar stok
Tantangan distribusi LPG di wilayah sulit kerap disalahartikan sebagai kelangkaan. Masalah utamanya adalah logistik dan fenomena panic buying. Pemerintah mulai menerapkan digitalisasi di tingkat pangkalan untuk memastikan subsidi lebih tepat sasaran — transformasi dari subsidi barang ke subsidi orang.
Social license: pelajaran dari Papua
Selain regulasi, tantangan terbesar menarik investasi blok migas baru adalah social license. Dirjen Migas berbagi kisah menyelesaikan sengketa lahan di Papua lewat dialog yang menekankan kolaborasi dengan masyarakat adat.