B50 adalah bahan bakar diesel campuran 50% biodiesel berbasis sawit (FAME) dan 50% solar fosil. Ini kelanjutan dari B40 yang lebih dulu diterapkan. Tujuannya menekan ketergantungan impor solar dan memaksimalkan potensi sawit dalam negeri — Indonesia salah satu pionir dunia dalam campuran setinggi ini.
Angka di belakang "B" adalah persentase biodiesel: B30, B40, B50. Kenaikan dilakukan bertahap dan diuji agar tidak menimbulkan masalah mesin, pasokan sawit, dan harga.
Semakin tinggi campuran nabati, semakin kecil solar fosil yang perlu diimpor. Dengan dukungan kilang RDMP Balikpapan, Indonesia menuju penghentian impor jenis solar tertentu.
Menaikkan porsi sawit untuk energi bersinggungan dengan pasokan pangan dan lahan. Karena itu B50 dibaca sebagai bagian dari keseimbangan, bukan solusi tanpa biaya.